“Pernah ada anak yang terserempet kendaraan. Itu yang membuat kami akhirnya membuka SD Komodo Inerie,” jelas Yustina.

SD Komodo Inerie resmi dibuka pada tahun 2019 dengan jumlah awal 23 siswa, seluruhnya merupakan lulusan PAUD setempat. Sekolah ini dikelola dengan dukungan dua tenaga pendidik yang hingga kini tetap setia mengabdi.
Nama Komodo Inerie dipilih sebagai simbol persatuan dan identitas, menggabungkan ikon Komodo dari Manggarai dan Gunung Inerie di Aimeres, Ngada.
Bertahan dengan Fasilitas Terbatas
Pada awal operasional, proses belajar mengajar bahkan dilakukan di kamar kos. Namun aturan pendirian sekolah swasta mengharuskan kepemilikan lahan sendiri. Dengan meminjam dana koperasi, pihak yayasan akhirnya membeli tanah seluas kurang lebih 1.000 meter persegi.
Izin operasional sekolah terbit pada tahun 2020, dan sejak 2021 SD Komodo Inerie mulai menerima Dana BOS setelah terdata di Dapodik.
Meski demikian, hingga kini sekolah tersebut belum pernah menerima bantuan pembangunan gedung, meskipun jumlah siswanya terus meningkat secara signifikan.
“Dari 23 siswa pada tahun pertama, sekarang jumlah siswa SD Komodo Inerie sudah mencapai 272 orang. Ini menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat,” ujar Yustina.












