Salah satu masalahnya adalah masih adanya satuan pendidikan yang belum memahami secara utuh konsep literasi membaca dan numerasi.
Literasi, kata dia, bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis, melakukan refleksi, mengevaluasi hingga menarik kesimpulan.
“Tidak bisa anak itu hanya tahu, tetapi dia tidak menalar,” tegasnya.
Berpengaruh terhadap TKA
Yosefina menjelaskan, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi berpotensi memengaruhi kesiapan siswa menghadapi TKA, terutama karena peserta didik dituntut tidak hanya mengingat materi, tetapi juga memahami informasi, bernalar dan menyelesaikan persoalan.
Karena itu, penguatan literasi dan numerasi tidak boleh hanya dilakukan pada mata pelajaran tertentu. Kemampuan tersebut perlu diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran.
Guru juga didorong menyusun soal dan aktivitas pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, menganalisis serta menarik kesimpulan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, lanjut Yosefina, terus mendorong sekolah melalui sosialisasi, bimbingan dan pendampingan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Namun, perubahan utama harus dimulai dari satuan pendidikan.












