Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Mereka Merawat Kita, Siapa yang Merawat Mereka?

Avatar photo
×

Opini : Mereka Merawat Kita, Siapa yang Merawat Mereka?

Sebarkan artikel ini
Reporter: Marikxen Eston Lonakoni |  Editor: Redaksi
Mereka Merawat Kita, Siapa yang Merawat Mereka?
Catatan tentang Eksploitasi yang Diam-Diam Menghancurkan Tenaga Kesehatan
Oleh : Marikxen Eston Lonakoni, S.Kep.,Ns -Perawat RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang – Wakil Sekretaris PPNI NTT

KUPANG | BuletinNTT.com – Kamu datang lebih awal, pulang lebih malam. Kamu tersenyum di depan pasien meski punggungmu sudah tidak bisa tegak sejak pagi. Kamu tidak mengeluh, karena mengeluh rasanya tidak profesional. Dan di balik semua itu, ada sistem yang tahu betul bahwa kamu tidak akan pergi — karena kamu terlalu peduli untuk pergi.

Baca Juga :  Pernyataan PLT WGM Versi RALB “Bakar Saja Kantornya!” Picu Amarah Anggota, Pelayanan Kopdit Swasti Sari Kembali Lumpuh

Ini bukan tulisan untuk mengeluhkan profesimu. Ini adalah tulisan untuk mengatakan dengan keras apa yang mungkin selama ini hanya kamu rasakan dalam diam: kamu sedang dieksploitasi. Dan itu bukan salahmu.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Ketika Jam Kerja Bukan Lagi Milikmu

Coba ingat kembali: kapan terakhir kali kamu pulang tepat waktu? Bukan karena pasien sudah selesai semua — tapi memang karena shift-mu sudah berakhir dan kamu berhak pulang?

Di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia, jam kerja bagi tenaga kesehatan adalah konsep yang elastis. Shift 12 jam yang berlanjut menjadi 14 jam bukan pengecualian — ia adalah norma yang tidak tertulis. Lembur tidak selalu dibayar. Cuti sering kali hanya di atas kertas. Dan jika kamu protes, kamu akan diingatkan tentang “tanggung jawab moral” kepada pasien.