KUPANG, BuletinNTT.com — Di tengah memanasnya konflik terkait proyek panas bumi (geotermal) di Flores, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, melakukan kunjungan langsung ke dua titik utama yang menjadi pusat penolakan warga: Poco Leok di Manggarai dan Mataloko di Ngada, pekan kemarin.
Kunjungan tersebut dilakukan di tengah derasnya tekanan, larangan hingga potensi risiko keamanan.
Namun Gubernur NTT tetap memilih turun ke lapangan untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat, baik dari pihak yang menolak maupun yang mendukung pengembangan energi terbarukan di wilayah tersebut.
“Saya tahu dilarang masuk, saya tahu ini daerah yang panas, tetapi saya bilang: saya tetap mau turun. Ujarnya dalam satu forum dialog, yang videonya beredar luas.
Ketegangan di Poco Leok dan Mataloko
Menurut Laka Lena, dalam beberapa bulan terakhir, konflik sosial mencuat tajam di Poco Leok dan Mataloko. Warga terbelah dalam dua kubu, yang menolak dan yang mendukung eksplorasi panas bumi.
Bahkan, spanduk-spanduk penolakan bertebaran, dan beberapa kelompok aktivis mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek. Namun, Gubernur NTT melihat ada pola yang tidak biasa di balik penolakan tersebut.
“Tulisannya rapi, pakai Bahasa Inggris. Itu jelas bukan tulisan rakyat. Siapa yang desain? Siapa yang kirim? Yang main di belakang layar harus juga muncul,” tegasnya.
Tudingan Terima Uang Dari Pengembang
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, juga dalam suatu dialog tersebut, mengatakan ada tudingan, bahwa dirinya menerima uang dari pengembang proyek panas bumi. Dirinya dengan tegas tuding itu tidak benar dan silahkan cek saja.












