“Nilai Tinggi, Karakter Rendah? Saatnya Pendidikan Kita Berbenah”
Opini | Rosalia Gajung | Mahasiswa Undana
KUPANG | BuletinNTT.com – Kita hidup di masa ketika angka sering dianggap segalanya. Nilai ujian, peringkat kelas, hingga IPK menjadi tolok ukur utama keberhasilan.
Mereka yang angkanya tinggi dipuji, yang nilainya biasa saja sering kali dipandang sebelah mata.
Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah angka-angka itu benar-benar mencerminkan kualitas manusia?
Realitas justru menunjukkan sebaliknya. Banyak orang berpendidikan tinggi tersandung kasus korupsi.
Di sekolah, siswa dengan nilai baik belum tentu bebas dari perilaku merundung. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit yang cerdas secara akademik, tetapi gagal dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan empati.
Di titik ini, kita perlu jujur mengakui bahwa ada yang keliru dalam cara kita memaknai pendidikan.
Pendidikan terlalu lama dipersempit menjadi soal hasil, bukan proses. Kita sibuk mengejar angka, tapi lupa membentuk sikap.
Kita bangga pada kecerdasan, tapi abai pada karakter. Padahal, kehidupan tidak hanya menguji apa yang kita tahu, melainkan bagaimana kita bersikap.
Karakter bukan pelajaran tambahan yang bisa disisipkan sesekali. Ia adalah fondasi. Tanpa karakter, ilmu bisa menjadi alat yang berbahaya.








