Ia bahkan mengingatkan, apabila kegiatan tersebut tidak mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan dari tahun ke tahun, maka tujuan promosi pariwisata patut dipertanyakan.
“Kalau tingkat kunjungan tidak berubah, maka pemerintah sedang menipu rakyat. Ini harus jadi catatan serius,” katanya.

Sebagai solusi, Hans Rumat mendorong agar pemerintah daerah lebih fokus pada program yang berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Di antaranya melalui perbaikan infrastruktur jalan menuju destinasi wisata serta kolaborasi dengan asosiasi pariwisata.
Ia menyebut sejumlah organisasi seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) sebagai pihak yang lebih tepat dalam mendatangkan wisatawan.
“Kalau anggaran itu dialihkan untuk memperbaiki akses jalan dan mendukung sektor pariwisata secara langsung, dampaknya akan lebih terasa. Wisatawan datang, masyarakat terlibat, ekonomi bergerak,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong penyelenggaraan event berbasis budaya lokal yang melibatkan masyarakat secara luas, seperti pertunjukan seni, promosi tenun, dan kuliner khas daerah.












