Yohanes mengatakan sasaran awal program hanya 10 keluarga, tetapi dalam pelaksanaannya berkembang menjadi 17 keluarga penerima bantuan.
“Kami targetnya 10, tetapi yang kami dapat 17 keluarga yang kami bantu,” jelasnya.

Ia menyebut keterbatasan dana menjadi salah satu alasan jumlah penerima bantuan harus disesuaikan dengan kemampuan program.
Program ini sekaligus menjadi tahap awal untuk melihat respons masyarakat terhadap pola pemberdayaan berbasis gizi dan ekonomi keluarga.
Jika program berjalan sesuai harapan, Undana akan merekomendasikannya kepada pemerintah daerah untuk dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Ayam petelur dan lele dipilih karena relatif mudah dirawat, membutuhkan biaya pemeliharaan lebih rendah, serta tidak memerlukan lahan yang luas.
Ketersediaan pakan juga menjadi pertimbangan agar program dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap kalau ini bisa berjalan dengan baik sesuai harapan, maka menjadi rekomendasi kepada pemerintah daerah,” pungkas Yohanes.












