“NTT Mart ini harus menjadi etalase produk sekolah. Jangan sampai lebih banyak produk dari luar sekolah. Harus utamakan produk yang dihasilkan oleh sekolah yang masuk dan dipasarkan di NTT Mart by OSOP ini,” tegasnya.

Menurut Melki, kehadiran NTT Mart merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam membangun ekosistem ekonomi kerakyatan yang berbasis pada potensi lokal, termasuk potensi yang lahir dari dunia pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi daerah saat ini didorong melalui tiga pendekatan utama, yakni One Village One Product (OVOP) berbasis desa dan kelurahan, One Community One Product (OCOP) berbasis komunitas, serta One School One Product (OSOP) yang berbasis sekolah.
“Kalau di desa ada OVOP, di komunitas ada OCOP, maka di sekolah kita dorong OSOP. Dengan begitu produksi dari desa, komunitas, dan sekolah bisa saling terhubung dan memperkuat ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Gubernur Melki menilai ketiga pendekatan tersebut menjadi penyangga penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur. Desa, komunitas, dan sekolah dengan berbagai potensi yang dimiliki diharapkan mampu menghasilkan produk unggulan yang dapat dipasarkan secara luas.












