Melalui program Duta Bahasa, para peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga didorong untuk menjadi agen literasi yang mampu menggerakkan lingkungan sekitarnya, baik di sekolah, kampus, komunitas maupun masyarakat luas.
“Dari berbagai kegiatan yang kami lakukan, kami mencari dan mengidentifikasi generasi muda yang memiliki komitmen terhadap literasi. Mereka kemudian dibina agar dapat meningkatkan kualitas literasi diri sendiri sekaligus menjadi penggerak di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa tema kegiatan yang dilaksanakan Balai Bahasa dapat berubah setiap tahun sesuai kebijakan pemerintah pusat.
Jika tahun ini fokus pada penulisan esai, pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan lebih diarahkan pada karya kreatif seperti film pendek, penulisan cerita pendek, hingga berbagai bentuk kreativitas berbasis bahasa dan sastra.
Hery mengajak seluruh generasi muda NTT untuk aktif terlibat dalam gerakan literasi dan menjadi bagian dari upaya mencerdaskan masyarakat melalui budaya membaca dan menulis.
“Saya mengajak seluruh generasi muda dari berbagai kalangan untuk bersama-sama meningkatkan literasi. Negara tidak mungkin menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa dukungan generasi muda dan komunitas literasi. Karena itu mari kita bergerak bersama membangun budaya literasi di NTT,” pungkasnya.












