Mereka juga berbelanja produk tenun dan kerajinan khas NTT di Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT serta gerai UMKM yang dibuka di area pelabuhan.

Oyan menjelaskan, kunjungan wisatawan berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 18.30 WITA, Selasa (24/02/2026).
Dalam rentang waktu tersebut terjadi perputaran uang yang cukup besar, mulai dari sektor transportasi, kuliner, pemandu wisata, hingga pelaku seni budaya yang menampilkan tarian adat untuk menyambut tamu mancanegara.
“Inilah yang disebut multiplier effect. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya pelaku usaha pariwisata, tetapi juga penari, sopir, pedagang kecil, dan pemerintah daerah melalui retribusi serta biaya sandar kapal,” tegasnya.
Ia menambahkan, biaya sandar kapal di Pelabuhan Tenau juga menjadi sumber pemasukan negara melalui pengelolaan oleh Pelindo.
Lebih jauh, Oyan menekankan bahwa kunjungan kapal pesiar tersebut merupakan hasil promosi berkelanjutan yang dilakukan anggota ASITA dalam berbagai pameran dan expo pariwisata, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui promosi itu, potensi wisata alam, budaya, dan bahari NTT semakin dikenal dan diminati tour operator luar negeri.












