Peran dalam Program Pembangunan
Gubernur Melki juga mengajak OMK terlibat dalam program unggulan Pemprov NTT, seperti One Village One Product (OVOP) dan Gerakan Beli NTT.
Ia menyebutkan bahwa desa-desa di NTT perlu menghasilkan produk khas yang tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga mencerminkan budaya lokal.
“Kalau bisa ke depan, setiap OMK punya produk unggulan. Produk itu jangan dilepas mentah ke pasar, tapi diberi sentuhan agar nilai jualnya meningkat,” jelasnya.
Gerakan Beli NTT
Program Gerakan Beli NTT, menurutnya, akan memfasilitasi pemasaran produk-produk lokal melalui kanal digital — dari tenun, kopi, garam, hingga komoditas kreatif lainnya.
“Saya ingin mengajak OMK menjadi bagian dari ekosistem transformasi digital NTT. Bukan hanya penikmat teknologi, tetapi pencipta solusi dan pembangun komunitas,” tambah Gubernur.
Kolaborasi Gereja dan Pemerintah
Melki juga mengakui bahwa pembentukan generasi muda yang berkarakter dan beriman tidak bisa hanya menjadi tugas pemerintah. Gereja, katanya, memiliki peran besar dalam mendampingi kaum muda agar tetap memiliki kompas moral di tengah derasnya arus digital.
“Pertemuan ini bukan sekadar forum koordinasi teknis, tapi momentum rohani untuk memperbarui panggilan kita sebagai peziarah iman dan pengharapan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Kepemudaan Regio Nusra–Bali, RD. Longginus Bone, mengingatkan bahwa OMK dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia dalam menghadapi tantangan era digital, termasuk godaan popularitas semu dan gaya hidup individualistik.
“OMK banyak mendapat terpaan. Tapi dengan nilai-nilai Kristiani, kita tetap bisa menyalakan harapan dan berjalan dalam iman,” ujarnya.
Acara pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Gubernur NTT dan penyerahan starter kit serta pengalungan ID card kepada perwakilan peserta. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan strategi konkrit dan jejaring kolaborasi antara keuskupan, gereja, dan pemerintah daerah.












