Prof. Apris menyebut relawan berasal dari bidang psikologi dan Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM).
“Dari FKM kita juga kirim relawan ke Flores. Ada dari psikologi dan IKM. Mereka dibutuhkan untuk pendampingan anak-anak,” jelasnya.
Para relawan tidak bekerja sendiri. Mereka bergabung dengan alumni FKM Undana yang berada di sejumlah daerah, di antaranya Ende, Maumere, Bajawa, dan Nagekeo.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari respons FKM Undana terhadap kondisi masyarakat pascagempa, sekaligus menjalankan fungsi pengabdian perguruan tinggi.
Prof. Apris mengatakan, berdasarkan laporan sementara, para relawan masih menjalankan tugas di lapangan dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Bagi FKM Undana, penanganan dampak bencana tidak cukup hanya melalui bantuan material. Pendampingan dan dukungan psikologis juga diperlukan, terutama bagi anak-anak yang menghadapi situasi sulit setelah gempa.
Melalui bantuan bagi mahasiswa, pengiriman relawan, serta keterlibatan alumni, FKM Undana memastikan sivitas akademikanya ikut hadir membantu masyarakat terdampak di Flores.












